Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Tiga Belas Bulan di Yogyakarta

Merantau Jilid 2: Halaman Persembahan

Boleh saja berpikir canggih. Namun, berfokus pada hal penting dan  mengabaikan hal yang menarik perhatian adalah cara untuk menjadi sederhana.  Sudah menjadi tugas pemimpin untuk menyederhanakan hal-hal rumit. Jangan mengkerdilkan diri sendiri, keluarga atau orang-orang terdekat kita.  Jika orang lain tidak melakukannya terhadap kita, mengapa kita justru berbuat.  Padahal, Allah senantiasa membesarkan kita dari keadaan yang kerdil  (Ayahanda) Selalu ada pola di dunia ini, apapun itu. Bahkan saat sesuatu itu tidak berpola,  polanya adalah tidak beraturan. Tetapi, sekacau apapun polanya,  kita tetap bisa menemukan hal menarik dan menyimpulkan sesuatu  (Darwis Tere Liye dalam Negeri di Ujung Tanduk) Semua orang besar adalah pemimpi. Mereka melihat banyak hal dalam kabut lembut saat musim semi atau api merah pada malam musim dingin yang panjang.  Beberapa dari kita membiarkan impian besar itu mati, tetapi yang lain justru meme...

Merantau Jilid 2: Masih Ada (Keikhlasan dan Kelembutan Hati)

“... Oh Andromeda, biarlah engkau bersinar di antara ribuan bintang lainnya S ebagai isyarat Tuhan akan pesona dan keagungan cinta , yang berharap kembali N amun suatu saat nanti pelitamu ’kan abadi bersama mimpi ...” (Dear Andromeda: Kabisat) Chapter 7 -------------------------------------------- Yunani dan Ethiopia Sebelum Masehi -------------------------------------------- Kalimat-kalimat cerdik dari Nereid—Venus dan para dewi laut—berhasil menambah kemarahan Poseidon. Sebagai Dewa yang menguasai laut, Poseidon tidak senang mendengar kesombongan istri Raja Ethiopia yang mengumbar kecantikan dirinya dan putrinya di seantero negeri mereka itu. Sontak, rakyat Ethiopia bangkit cemasnya. Mereka takut akan murka Dewa Laut yang terkenal temperamental. Kekhawatiran mereka akhirnya menjadi kenyataan. Cepheus sebagai pemimpin tertinggi negeri Ethiopia mengumumkan peringatan Poseidon ke seluruh penjuru negeri. Seketika bencana memporak-porandakan seluruh wilayah. K...

Merantau Jilid 2: Tak mau kurang, selamanya

“... Another aeroplane , a nother sunny place . I’m lucky, I know . But I wanna go home. I’ve got to go home . Let me go home . I’m just too far from where you are . I wanna come home...” (Home: Michael Buble) Chapter 6 Pelukan hangat Ayahanda. Sambutan pertama masa liburan semester satu magisterku yang kudekap erat di antara dinginnya malam. Kami bertemu di jalan—lorong Abuid. Saat itu, dengan teluk belanga hijau berbalutkan kain sarung hitam beliau melangkah keluar rumah menuju meunasah Drien Rampak. Begitu selesai azan Isya, salam dan peluk jadi awal pengantar kerinduan kami berdua. Lalu, Ayah kembali menerobos gelap. Oktober dua ribu dua belas, usia Ayah sudah kepala enam. Entah mengapa, sosoknya selalu menginspirasi sepanjang masa. Tegas dan penuh kasih sayang. Prinsip yang teguh dan penuh pertimbangan. Kuat dan tegar, namun kegalauannya senantiasa terasa walau tak terucap. Pria koleris, tetapi juga melankolis. Sudah tak terhitung aku direpresentasikan oleh ora...

Merantau Jilid 2: Antara Tugu dan Pasar Senen

“ ...hadirmu disini, akankah hadirmu juga disana? Kabari aku nanti... ” Chapter 5 Sarapan pagi di Burjo  Kang Emen Waktu seakan berlari begitu cepat. Rasanya baru kemarin makan malam pertama di warung pecal lele depan pizza hut Jakal Km. 5,6 saat tiba di Yogyakarta. Sepertinya tidak pernah terlupakan masa-masa mengisi lambung dengan menu andalan nastel —nasi telur—di warung burjo buatan Kang Emen yang rasanya sangat standar namun harganya ramah, sangat ramah. Belakangan ini Kang Emen mulai kehilangan omset, karena pelanggan tetapnya—kami—dari keluarga besar rumah kontrakan Mbah Sumo mulai menemukan alternatif makanan lain yang lebih bergizi, enak dan terjangkau. Ya, ibu di lorong sebelah menyajikan pilihan makanan yang lebih variatif. Nasinya bisa tambah sesuka hati. Lauk seperti ayam, lele, tempe, dan telur dadar tersedia dengan porsi jumbo , lebih gemuk dibandingkan dengan lauk di warung burjo . Bisa request sambal juga, seperti sambal ijo, terasi, atau sambal baw...

Merantau Jilid 2: Jabal Rahmah, Padang Arafah dan Taman yang Indah

“Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laa ilaaha illallahu Allahu Akbar. Allahu Akbar, wa lillahil hamd” Chapter 4 Takbir, tahlil, dan tahmid berkumandang di seantero bumi Sultan. Jumat yang penuh berkah memberi kedamaian bagi jiwa-jiwa yang senantiasa haus akan kasih sayang Allah. Bagiku, Idul Adha kali ini adalah hari lebaran yang penuh dengan keindahan. Ketika keindahan terpadu dalam kasih sayang-Nya, seakan Jabal Rahmah berdiri kokoh di hadapanku. Dan aku melihat sebuah sisi monumen yang masih kosong. Akahkah terpahat ukiran namaku dan namamu yang baik disana? Taqabbalallahu minna wa mingkum . Jabal Rahmah dan Monumennya Kawan, tahukah engkau tentang Jabal Rahmah? Bukit berbatu di bagian timur Padang Arafah itu menyiratkan sebuah risalah cinta pertama kali dalam sejarah kehidupan manusia di bumi Allah ini. Ketika Adam dan Hawa diturunkan dari surga Allah ke dunia karena menyantap buah yang dilarang-Nya, mereka terpisah begitu jauh. Seiring kesedihan mereka ...

Merantau Jilid 2: Pertemuan-pertemuan Bersejarah

“Ya Allah, atas kehendak rasa aku mencintainya dalam diam. Jika diamku membawa sebuah isyarat, jagalah pandangan dan hatiku dari segelintir nafsu yang membutakan mata. Ya Allah, jika yang kurindu dalam diamku akhirnya bukan untukku, leburkanlah rasa ini bersama waktu mengalun pergi” Chapter 3 Doa menjadi tumpuan manusia sebagai makhluk yang lemah dan tak berdaya menghadapi kenyataan kehidupan. Atas ketidakkuasaan yang dimiliki makhluk, mutlak bagi hamba dhaif untuk meminta dan memohon kepada Allah sesuai tuntunan Rasulullah. Setidaknya, itulah doa yang kerap kupanjatkan kepada Ilahi. Bukan karena kegalauan akibat putus cinta. Tidak pula karena perasaan sayang yang bertepuk sebelah tangan. Jangan pernah sebut aku lelaki suci tanpa khilaf. Namun, hal rumit ini lebih kepada buah perenungan dari kejadian-kejadian di masa silam, menyajikan rasa pelajaran amat berharga yang kupetik dari suka duka ranting perjalanan hidup. Mari berbenah, kembali memupuk harapan penuh cinta . Ber...

Merantau Jilid 2: Hujan Mengguyur Rindu

Chapter 2 “Rinai hujan basahi aku, temani sepi yang mengendap. Kala aku mengingatmu dan semua saat manis itu. Segala seperti mimpi, kujalani hidup sendiri. Andai waktu berganti, aku tetap tak ‘kan berubah. Aku selalu bahagia saat hujan turun, karena aku dapat mengenangmu untukku sendiri. Selalu ada cerita tersimpan di hatiku. Tentang kau dan hujan, tentang cinta kita yang mengalir seperti air. Aku bisa tersenyum sepanjang hari, karena hujan pernah menahanmu disini untukku.” (Utopia: Hujan) Sungguh bahagia menyambut hujan yang turun menjelang siang hingga berakhir petang. Wanginya yang khas manakala membasahi panasnya bumi, kesejukan yang menyegarkan tatkala dinginnya menelusup hingga ke sanubari, kedisiplinan yang teratur saat Mikail selalu setia terhadap titah Rabb-nya untuk menyampaikan aliran kehidupan bagi penghuni dunia ilahi, dan rangkaian warna-warni indah bianglala yang melingkupi langit timur saat semburat senja sang surya masih sempat menyisakan sinarnya y...

Merantau Jilid 2: Sepanjang Jalan Pandega Siwi dan Sekip

Chapter 1 Selepas maghrib, kuucapkan kembali selamat bermalam minggu— happy Saturday night —terutama untuk diriku lewat tulisan singkat ini. Sebenarnya tulisan ini dalam rangka menunaikan janji yang tertunda bagi seseorang yang berada nun jauh di kota Sultan Iskandar Muda dan Ratu Safiatuddin. Sembari mengiringi doa agar ia selalu dalam lindungan Allah di setiap langkah dan perbuatannya. Aamiin. Kawan, hari ini—Sabtu, 22 September 2012—aku menyimak, menikmati dan menjalani momen-momen yang terjadi di sekitarku maupun di luar sana. Malam ini adalah malam minggu ketiga aku berada di kota Yogyakarta ini. Berada jauh dari kampung halaman sudah pasti mengguratkan rasa rindu akan kebersamaan dengan orang tua dan sahabat-sahabat tercinta. Sejak tiba di Pandega Siwi hari Kamis tanggal 6 September 2012 yang lalu, tidak butuh penyesuaian yang terlalu kentara untuk berbaur dengan situasi dan kondisi perantauan yang kembali berbeda ini. Pengalaman pernah bersekolah di SMAN 5 Wira Ban...