Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Pengabdian

Latah Pelatihan, Gagap Pelaksanaan

Selain sapi dan penetapan zona warna-warni, tajuk berita salah satu media di Aceh beberapa hari ini mengangkat kisah tentang dinamika kegiatan bimtek bagi pemerintah gampong. Beberapa tokoh juga telah menanggapi dan berkomentar sesuai kapasitasnya. Terlepas apa pun pandangan dan sikap para tokoh serta reaksi masyarakat yang mungkin saja belum terpublikasi namun saya yakin telah teramati dengan baik, kita tentu perlu berterima kasih kepada media yang sudi memperkaya khazanah informasi semacam ini kepada publik. Sebagai bagian dari warga gampong, kita perlu sepakat pula untuk mengawali pemikiran dengan tidak menghakimi serampangan dan menyerahkan sepenuhnya proses tindak lanjut persoalan tersebut kepada pihak yang berwenang. Hal ini akan lebih bijak dan bertanggung jawab ketimbang berkomentar tanpa dasar dan bukti. Sebab itu pula, tulisan ini tidak akan menyinggung tentang hal tersebut. Pada konteks yang lebih luas dan umum, tulisan ini merupakan buah pikiran saya tentang upaya peningk...

RESOLUSI 2017 DANA DESA DAN KEBERDAYAAN MASYARAKAT DESA

Tahun 2015 adalah percobaan. Tahun 2016 adalah pembuktian. Lalu, tahun 2017? Setidaknya demikianlah ungkapan-ungkapan optimis yang dituturkan oleh beberapa orang kepala desa dan perangkat desa saat melaksanakan program dan kegiatan di desa melalui salah satu sumber dana yang berasal dari APBN selama dua tahun terakhir ini, yaitu Dana Desa. Tidak sedikit pula yang pesimis karena merasa belum memiliki kemampuan yang cukup, sehingga terbayang di depan mata mereka ketakutan akan penyalahgunaan dana, kesewewenang-wenangan dan rentan terhadap kesalahan administrasi yang berujung pada konsekuensi hukum dari para stake holder anti korupsi. Dana desa adalah rahmat sekaligus tantangan. Memasuki tahun 2017 ini, kami mencoba mengangkat sebuah resolusi yang dapat menjadi bahan diskusi bersama di kalangan pemerintah desa, pemerintah kabupaten dan masyarakat desa pada umumnya serta gampong-gampong di Aceh pada khususnya. Resolusi ini dimaksudkan agar kita mampu mengarahkan penggunaan Dana Desa de...

Dana Desa dalam Perspektif Administrasi Publik

April menjadi bulan yang paling ditunggu-tunggu oleh kesatuan masyarakat hukum terdepan di negeri ini yang disebut dengan desa, atau gampong di Aceh. Tidak lain karena janji Pemerintah yang akan menyalurkan Dana Desa, salah satu jenis dana transfer yang baru dan telah dianggarkan dalam APBN 2015 sebesar Rp. 9,06 triliun (APBN-P 2015 menjadi Rp. 20 triliun). Namun, siapkah desa atau gampong menyambut dan mengelolanya? Melalui prinsip-prinsip administrasi publik, saya mencoba menguraikan beberapa hal yang saya pahami secara pribadi dalam sudut pandang kebijakan publik. Pedoman utama pembahasan tulisan ini berpijak pada peraturan perundang-undangan yang berlaku, dengan tujuan untuk memberikan gambaran menarik lainnya tentang Dana Desa. Hal ini dilakukan untuk menyikapi pemahaman beberapa elit pemerintahan, birokrat atau masyarakat umum lainnya terutama dalam rangka persiapan pelaksanaan UU Desa. Ilustrasi Dana Desa (Sumber:indonesiabangundesa.org )

Catatan Baru: Bagian Tengah

(1) Tiga puluh tujuh kilometer perjalanan pergi ke tempat pengabdian kemudian pulang kembali ke rumah yang ditempuh dengan sepeda motor memang memberikan kesan mendalam bagiku. Kalau boleh ditambahkan, kecepatan bisa jadi berbanding lurus dengan konsekuensi perjalanan jarak jauh. Jika kau melesatkan sepeda motormu secara konstan dengan kecepatan 40 km/jam, maka konsekuensinya adalah kejenuhan. Namun sebaliknya, jika kecepatan sepeda motormu itu melaju di atas 100 km/jam, maka konsekuensinya adalah kecelakaan. Nah, kalau sudah begitu maka rumus tersebut haruslah diperjelas dengan suatu koefisien —sebutlah dengan simbol huruf k —sehingga perjalanan akan terasa lebih menyenangkan. Koefisien itu bagiku lazimnya terbagi menjadi dua macam. Koefisien pertama lebih sering kugantikan dengan alunan lagu yang mengalir dari handphone di saku seragam kananku, kemudian melewati headset yang berjejal antara telingaku dan cengkraman helm full-face itu. Beberapa tembang lawas dan masa kini akan m...

Catatan Baru: Bagian Awal

Sahabat ialah kebutuhan jiwa yang mendapat imbangan, karena engkau menghampirinya di kala hatimu gersang kekeringan. Karena dalam pelukan persahabatan, tanpa kata, segala pikiran, harapan dan keinginan dicetuskannya bersama dan didukung bersama. Petuah Khalil Gibran yang satu ini memang sangatlah mengena di hati. Bahwa betapa perjalanan hidup semua orang tentu tak lekang dari persahabatan. Bahwa betapa berkuasanya seseorang atas segala materi di sekelilingnya mutlak membutuhkan andil orang lain dari apa yang ia dapatkan. Bahwa manusia adalah makhluk sosial yang serba kekurangan. Hidupku sangat patut untuk disyukuri, karena pada setiap persinggahan yang kulalui kudapati diriku senantiasa dianugerahi Allah akan sahabat-sahabat terbaik itu. Potret suka dan duka, bijak dan tolol, beradab dan biadab, taat dan malas, semua bagaikan gelombang transversal tiada berujung yang berbukit lembah tak beraturan. Namun, aku yakin selalu ada rahasia di balik setiap pertemuan dan pasang-surut ke...