Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Kumpulan Puisi

2016

Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh. Kepada Kabisat 1988. Tak ada yang istimewa. Hanya sekedar menyapa karena lama tak bersua. Waktu yang berdetak dengan kesibukan dan kelalaian membuat kau lama tak terjamah. Kau pun tak begitu istimewa. Apa istimewanya dirimu? Mendatangkan uang pun tidak. Kompetitormu pun semakin banyak. Seiring zaman, formatmu pun semakin klasik. Tapi, kita sudah terlanjur bersama. Mungkin tujuh atau delapan tahun yang lalu. Kau masih ingat saat pertama kita bertemu? Kalimat-kalimat puitis serupa gugusan bintang dan galaksi menjadi pengantar perkenalan kita. Lalu karena manis dirimu, kusebut kau layaknya cemilan yang amat kusuka. Pernah pula kau menjelma layaknya putri jelita. Sampai kau yang kukagumi senantiasa kusebut dalam doa. Apa yang telah kutulis pada dirimu sebagian kecil perlu kita tutup sekarang. Bahkan, jauh-jauh hari tema-tema itu tak pernah lagi kita bahas bersama. 2016 jadi awal cerita-cerita baru yang pasti belum pernah kau ketahui sebelumn...

Homo proponit, sed Deus disponit

Semoga dirimu... Mari bersama...

Padamu Johan Pahlawan

Karya: B. Ustari Genderang perang menderu Lantai kelam penjajah kolonial mendidih Raung badai perlawanan merobek angkasa Memerah bumi Tanah Rencong Anak negeri meradang Bangkit melawan dengan pedang Rencong pusaka terhunus Memangsa penjajah yang rakus Dari rimba belantara milik Allah Doa dipanjatkan Tekad dibulatkan Siasat dibungkus berbalut keju Demi sebuah kebebasan dan harga diri Teuku Umar Johan Pahlawan Dalam pengejaran yang tak berujung Engkau pulang ke kampung halaman Mengusir penjajah Meruntuhkan tanggul kokoh penindasan Gemuruh tekad menentang kezaliman Dipanggang panas apimu Digarami lautmu Teriakan kejantanan membahana Engkau, atau aku Tanggul penjajahan terguncang Gelisah mencemaskan Kepongahan berselimut kepanikan Siasat kesetiaan terendus dalam kelam Serentetan mesiu dilepas tanpa arah Air bergolak, ombak bangkit menerpa Suak Ujung Kalak membisu, haru Lantai kelam perjuangan memerah Di tanah kelahiranmu Teuku Umar Engkau pulang men...

Kepada Hawa (Reposting)

aku merelakanmu menjauh, merelakanmu terjatuh ke tempat sampah bagai sepotong apel merah yang di geligimu pernah berdarah adakah cinta yang jatuh kepadamu melebihi cintaku? lelaki yang engkau cintai itu mati dan tak membawamu ke makamnya sementara aku bertahan hidup, bertahun-tahun sanggup tak mati oleh rindu—dan menanti di surga hawa, aku masih ular yang setia mencintaimu sepanjang usia tuhan -------------------------------------------------- karya M. Aan Mansyur (dimusikalisasi dan dibacakan oleh Anji) Sekedar menyetor sebuah tulisan ke dalam blog. Akhir-akhir ini semakin tidak produktif untuk menulis. Namun, hari ini Jumat tanggal 29 November 2013 tepat di peringatan Hari Korps Pegawai Republik Indonesia ke-42, salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan S2 di program studi Magister Administrasi Publik UGM Yogyakarta selesai diuji, dipertahankan dan diterima oleh para dosen penguji. Alhamdulillah, the most historic day. Thanks f...

Aku dan Kau (Cinta Bermain Kata; Bermain Kata Cinta)

Tak terbaca, entah. Menepis prasangka adalah pilihan paling bijak. Menanti tulisan adalah pilihan paling masuk akal. Bahagia adalah harapan. Tak terhitung, entah. Menyitir doa adalah pilihan paling bijak. Menyebut namamu adalah pilihan paling masuk akal. Mimpi adalah harapan. Tak terjelaskan, entah. Mencintaimu adalah pilihan paling bijak. Memilikimu adalah pilihan paling masuk akal. Pernikahan adalah harapan. Entah apa yang kubaca, kuhitung dan kujelaskan. Aku bijak, hati menuntunku padamu. Aku masuk akal, logika membawaku padamu. Aku berharap, kamu. Prasangka sulit ditolak, tapi belum kutahu doa diterima. Nyatanya cinta tetap tak berubah. Tulisan yang kesekian kali belum kuterima, tapi berkali-kali namamu terucap olehku secara berirama. Nyatanya, memilikimu ialah usaha tanpa putus asa. Akhirnya, kita sadar cinta adalah memiliki. Kita paham pula tentang memiliki cinta. Dan harapan menikahimu adalah mimpi bahagia yang harus jadi nyata. Hingga saatnya tiba, ...

September

September ini kosong. Sebenarnya tidak. Isinya hanya ini. Tapi, bisa dibilang tidak berisi. Kau akan membacanya jika memasukkan kata kunci 'September'. Dan seketika kau akan tidak membacanya lagi. Buat apa bertanya, coba lihat kalimat awal tulisan ini: kosong. Begini saja. Kalau kau bersedia, simak sedikit sampai akhir. Anggap saja kau menghargaiku atas tulisan ini; dan aku menghargaimu untuk hapus rasa penasaran. Seperti aku yang juga penasaran; mengapa aku harus menulis ini? Ini sudah di ujung, ujung September. Ini juga sudah di ujung, ujung tulisan. Tapi, ini belum berakhir. Siapa bilang purnama ketigabelas kemarin sudah usai? Jelas belum. Bulan hanya kosong sebentar saja. Bulan menunggu dirinya diisi oleh cahaya. Hanya saja, cahaya-cahaya itu sedang berkelebat dalam pusat sistem saraf. Ujung September ini akan bertemu pangkal Oktober. Ujung tulisan ini akan bertemu pangkal cerita; bukan puisi. Jadi, tunggu saja bulan depan....

Kau dan Aku

Kau dan Aku Sedih melihat letak berdiri yang berbeda Kau dan Aku Sebentar saja bersinggahan, kemudian ditinggal lagi oleh bayangan Kau dan Aku Mencoba merangkai jiwa yang bimbang karena kecemasan Kau dan Aku Kebingungan oleh sakitnya yang kian tak terbilang Kau dan Aku Padahal diberi jaminan oleh alam yang berbaik hati, meski tubuh selalu tetap kedinginan Kau dan Aku Seandaianya mengerti ungkapan, jadilah kita duduk bersandaran di kesyahduan pelaminan Karena cintapun sebenarnya hanya ingin dan mau Kau dan Aku Di dalam keindahan suci pernikahan (Bukan tulisanku, tapi tulisan seseorang yang penuh makna)

Dalam Basah Ayat-Ayat Syukur

Kemana akan dibawa luka? Tanya senyap dalam dirinya Kemana akan dibawa perih? Tanya sembilu dalam hatinya Kemana akan dibawa sakit? Tanya pedih dalam sepinya Begitu habis kata oleh bisa yang beracun Begitu hilang makna oleh keingkaran yang menahun Sakit terus menjalar, perih terus membakar Lepuh datang, daya terbang Remuk kian terasa sampai ke tulang

Dear Cokelat (1)

Kasihku, Engkau adalah air bagiku Mengalir di seluruh tubuh yang dahaga Mengurai haru akan cinta pada tetes air mata Hingga lidah dan bibir ini berucap: Aku butuh engkau sayangku Kasihku, Terhampar jalan yang telah kita lewati Tersimpuh persinggahan yang pernah kita duduki Terbentang sajadah bagi kita untuk sujud dan berdiri Terpanjatkan do’a kepada-nya agar dilimpahkan cinta yang suci Hingga mulut ini berbisik lirih: Ya Allah, jagalah dirinya hingga dia kembali lagi Kasihku, Dalam sore aku bersujud di mushalla Bertanya, apakah mentari menghangatkan tubuhmu, dinda ? Ataukah angin membawa rindu dan cerita ? Bahwa hari ini dan selanjutnya ku kembali dilanda hampa Tentang angan yang ingin mendekapmu mesra Hingga batin ini tengadah kepadanya; Wahai Allah, tolong peluk dia dalam sholatnya bersama senja Sebelum tenggelamnya surya ia berbuka

Dear Andromeda (5)

Sampai jumpa kekasih Aku tak mampu mengisi ruang kosong dalam hatimu Singkat masa yang kita tempuh bersama Suka dan duka terpaut dalam benang perjalanan indah Kenangan abadi kan terpatri sepanjang bentangan jarak kita Tahukah engkau kekasih Aku ingin mencapai ujung benang itu Walau terjal ia berbukit lembah Walau tajam ia berkelok patah Walau sakit ia kelu di dada Namun sontak diriku dilanda gundah Lewati semua, hampir semua Menunggu waktu dan menyiapkan segalanya Tetapi harus jua lagi berhenti Inilah andromeda terakhir bagiku kekasih Seperti bait puisi hambar kutulis, sengau kubaca, tikam hati dan pikiranku Untuk terakhir kalinya kita saling bersandar—bahumu dan dadaku Kemas saja kenangan malam itu, jangan bawa dalam mimpimu Dan bangunlah untuk penulis andromeda yang baru—begitu juga aku

Dear Andromeda (4)

Pada saatnya, ketika musim berganti Dan gugusan mendung yang ranum menitikkan tetes hujan pertama Biduk yang kukayuh akan merapat ke dermagamu Menyibak kabut keraguan Dan mendamparkan rindu yang hangat dibakar hasratku Pada saatnya, di ujung perjalanan Akan kubingkai binar matamu Bersama gelegak gairah jiwaku Menjadi lukisan terindah di lekuk cakrawala Dalam leleh cahaya bulan melumuri langit Ditingkahi angin semilir dari laut Juga tarian ombak membelai lembut kristal pasir pantai kota kita Pada saatnya, akan kubuatmu terjaga dari lelap tidur Lalu bersama merajut impian yang tak segera usai Dalam genangan cinta di palung kalbu Dan getar cumbu tak berkesudahan

Dear Andromeda (3)

Pernahkah kau bayangkan Rangkaian mimpi yang kupahat di temaram langit andromeda Adalah wujud rinduku yang luruh dalam hening Dan tenggelam dalam kerik jengkerik beranda Pernahkah kau bayangkan Di setiap rentang waktu dimana kurekat erat binar matamu Selalu kutitipkan harap disana Dalam desau angin dan desir gerimis senja Pernahkah kau bayangkan Pada kelopak mawar di sudut taman dan jernih embun yang menitik di atasnya Kusimpan gigil gairahku yang membara padamu Di setiap nafas Saat kulukis paras purnamamu di kanvas hatiku

Dear Andromeda (2)

Secercah sinar memancar dari kaki langit Ternyata Andromeda Sinarnya lain dari yang dulu Yang dulu ketika kusitir puisi nelangsa untuknya Kulihat awan hitam berarak menutupinya Aku resah nanti ia tak lagi terang Namun ternyata sinarnya menembus awan itu, bahkan Menembus relung hati jiwa ini yang merindukannya Merindukan kembali ungkapan sayang dan cinta darinya Ungkapan yang datang ketika ia jatuh ke dalam istana hati Inikah isyarat Tuhan tentang sosok keagungan cinta yang telah lama kurindukan itu? Oh Andromeda, Berhari kau kuimpikan Berbulan kau kurindukan Bertahun kau akan kupertahankan

Dear Andromeda (1)

Selenguh nafas menderu dalam dinginnya malam tangannya menunjuk pancaran sinarmu yang indah ingin menggapai kemudian membawanya ke dalam istana hati Namun sayang tangan itu tidak sampai terulur jauh karena bentangan langit yang berlapis-lapis tangan itu pun tak kuasa menarik kembali karena peluh di tubuhnya telah terkuras habis Oh Andromeda, biarlah engkau bersinar di antara ribuan bintang lainnya sebagai isyarat Tuhan akan pesona dan keagungan cinta yang berharap kembali namun suatu saat nanti pelitamu ’kan abadi bersama mimpi