Skip to main content

Posts

29 Februari 2008

*KEPADA ANAKKU DAN ABANGKU* (Ibunda) Lewat lagu ibu rangkai kata Agar ananda selalu riang gembira Lewat angin ibu kirim pesan Agar ananda tak pernah lupa bersyukur Lewat kasih sayang ibu berikan sejuta pengharapan Agar ananda dimudahkan memasuki surga di kaki ibu Berjuanglah anakku Doa ibu akan selalu teriring Dalam setiap perjalanan dan perjuanganmu ------------------------------------------------------ (Ayahanda) Anak-anakku… Kalian adalah putra-putri yang hidup pada diri sendiri Lewat aku kalian lahir…namun tidak dariku Kalian ada padaku ...tapi bukan hakku Patut kuberikan rumah untuk ragamu...tapi tidak untuk jiwamu Sebab jiwamu adalah penghuni rumah masa depan yang tak pernah dapat aku kunjungi, Sekalipun dalam mimpi Aku ibarat busur, kau adalah anak panah yang meluncur Sang Pencipta Maha Tahu sasaran keabadian Dia merentangku dengan kekuasaan-ya Hingga anak panah itu melesat jauh dan cepat Meliuk dengan suka cit...

Catatan Baru: Bagian Tengah

(1) Tiga puluh tujuh kilometer perjalanan pergi ke tempat pengabdian kemudian pulang kembali ke rumah yang ditempuh dengan sepeda motor memang memberikan kesan mendalam bagiku. Kalau boleh ditambahkan, kecepatan bisa jadi berbanding lurus dengan konsekuensi perjalanan jarak jauh. Jika kau melesatkan sepeda motormu secara konstan dengan kecepatan 40 km/jam, maka konsekuensinya adalah kejenuhan. Namun sebaliknya, jika kecepatan sepeda motormu itu melaju di atas 100 km/jam, maka konsekuensinya adalah kecelakaan. Nah, kalau sudah begitu maka rumus tersebut haruslah diperjelas dengan suatu koefisien —sebutlah dengan simbol huruf k —sehingga perjalanan akan terasa lebih menyenangkan. Koefisien itu bagiku lazimnya terbagi menjadi dua macam. Koefisien pertama lebih sering kugantikan dengan alunan lagu yang mengalir dari handphone di saku seragam kananku, kemudian melewati headset yang berjejal antara telingaku dan cengkraman helm full-face itu. Beberapa tembang lawas dan masa kini akan m...

Dear Cokelat (1)

Kasihku, Engkau adalah air bagiku Mengalir di seluruh tubuh yang dahaga Mengurai haru akan cinta pada tetes air mata Hingga lidah dan bibir ini berucap: Aku butuh engkau sayangku Kasihku, Terhampar jalan yang telah kita lewati Tersimpuh persinggahan yang pernah kita duduki Terbentang sajadah bagi kita untuk sujud dan berdiri Terpanjatkan do’a kepada-nya agar dilimpahkan cinta yang suci Hingga mulut ini berbisik lirih: Ya Allah, jagalah dirinya hingga dia kembali lagi Kasihku, Dalam sore aku bersujud di mushalla Bertanya, apakah mentari menghangatkan tubuhmu, dinda ? Ataukah angin membawa rindu dan cerita ? Bahwa hari ini dan selanjutnya ku kembali dilanda hampa Tentang angan yang ingin mendekapmu mesra Hingga batin ini tengadah kepadanya; Wahai Allah, tolong peluk dia dalam sholatnya bersama senja Sebelum tenggelamnya surya ia berbuka

Catatan Baru: Bagian Awal

Sahabat ialah kebutuhan jiwa yang mendapat imbangan, karena engkau menghampirinya di kala hatimu gersang kekeringan. Karena dalam pelukan persahabatan, tanpa kata, segala pikiran, harapan dan keinginan dicetuskannya bersama dan didukung bersama. Petuah Khalil Gibran yang satu ini memang sangatlah mengena di hati. Bahwa betapa perjalanan hidup semua orang tentu tak lekang dari persahabatan. Bahwa betapa berkuasanya seseorang atas segala materi di sekelilingnya mutlak membutuhkan andil orang lain dari apa yang ia dapatkan. Bahwa manusia adalah makhluk sosial yang serba kekurangan. Hidupku sangat patut untuk disyukuri, karena pada setiap persinggahan yang kulalui kudapati diriku senantiasa dianugerahi Allah akan sahabat-sahabat terbaik itu. Potret suka dan duka, bijak dan tolol, beradab dan biadab, taat dan malas, semua bagaikan gelombang transversal tiada berujung yang berbukit lembah tak beraturan. Namun, aku yakin selalu ada rahasia di balik setiap pertemuan dan pasang-surut ke...