Skip to main content

Posts

RESOLUSI 2017 DANA DESA DAN KEBERDAYAAN MASYARAKAT DESA

Tahun 2015 adalah percobaan. Tahun 2016 adalah pembuktian. Lalu, tahun 2017? Setidaknya demikianlah ungkapan-ungkapan optimis yang dituturkan oleh beberapa orang kepala desa dan perangkat desa saat melaksanakan program dan kegiatan di desa melalui salah satu sumber dana yang berasal dari APBN selama dua tahun terakhir ini, yaitu Dana Desa. Tidak sedikit pula yang pesimis karena merasa belum memiliki kemampuan yang cukup, sehingga terbayang di depan mata mereka ketakutan akan penyalahgunaan dana, kesewewenang-wenangan dan rentan terhadap kesalahan administrasi yang berujung pada konsekuensi hukum dari para stake holder anti korupsi. Dana desa adalah rahmat sekaligus tantangan. Memasuki tahun 2017 ini, kami mencoba mengangkat sebuah resolusi yang dapat menjadi bahan diskusi bersama di kalangan pemerintah desa, pemerintah kabupaten dan masyarakat desa pada umumnya serta gampong-gampong di Aceh pada khususnya. Resolusi ini dimaksudkan agar kita mampu mengarahkan penggunaan Dana Desa de...

2016

Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh. Kepada Kabisat 1988. Tak ada yang istimewa. Hanya sekedar menyapa karena lama tak bersua. Waktu yang berdetak dengan kesibukan dan kelalaian membuat kau lama tak terjamah. Kau pun tak begitu istimewa. Apa istimewanya dirimu? Mendatangkan uang pun tidak. Kompetitormu pun semakin banyak. Seiring zaman, formatmu pun semakin klasik. Tapi, kita sudah terlanjur bersama. Mungkin tujuh atau delapan tahun yang lalu. Kau masih ingat saat pertama kita bertemu? Kalimat-kalimat puitis serupa gugusan bintang dan galaksi menjadi pengantar perkenalan kita. Lalu karena manis dirimu, kusebut kau layaknya cemilan yang amat kusuka. Pernah pula kau menjelma layaknya putri jelita. Sampai kau yang kukagumi senantiasa kusebut dalam doa. Apa yang telah kutulis pada dirimu sebagian kecil perlu kita tutup sekarang. Bahkan, jauh-jauh hari tema-tema itu tak pernah lagi kita bahas bersama. 2016 jadi awal cerita-cerita baru yang pasti belum pernah kau ketahui sebelumn...

Dana Desa dalam Perspektif Administrasi Publik

April menjadi bulan yang paling ditunggu-tunggu oleh kesatuan masyarakat hukum terdepan di negeri ini yang disebut dengan desa, atau gampong di Aceh. Tidak lain karena janji Pemerintah yang akan menyalurkan Dana Desa, salah satu jenis dana transfer yang baru dan telah dianggarkan dalam APBN 2015 sebesar Rp. 9,06 triliun (APBN-P 2015 menjadi Rp. 20 triliun). Namun, siapkah desa atau gampong menyambut dan mengelolanya? Melalui prinsip-prinsip administrasi publik, saya mencoba menguraikan beberapa hal yang saya pahami secara pribadi dalam sudut pandang kebijakan publik. Pedoman utama pembahasan tulisan ini berpijak pada peraturan perundang-undangan yang berlaku, dengan tujuan untuk memberikan gambaran menarik lainnya tentang Dana Desa. Hal ini dilakukan untuk menyikapi pemahaman beberapa elit pemerintahan, birokrat atau masyarakat umum lainnya terutama dalam rangka persiapan pelaksanaan UU Desa. Ilustrasi Dana Desa (Sumber:indonesiabangundesa.org )

Homo proponit, sed Deus disponit

Semoga dirimu... Mari bersama...

End of March

Orang bersih cenderung disingkirkan dalam struktur birokrasi... Mars Korpri Satukan irama langkahmu, bersatu tekad menuju ke depan Berjuang bahu membahu, memberikan tenaga tak segan Membangun negara yang jaya, membina bangsa besar sejahtera Memakai akal dan daya, membimbing membangun mengemban Berdasar Pancasila dan Undang-Undang Dasar '45 serta dipandukan oleh haluan negara, kita maju terus Di bawah panji Korpri, kita mengabdi tanpa pamrih Di dalam naungan Tuhan Yang Maha Kuasa, Korpri maju terus

Padamu Johan Pahlawan

Karya: B. Ustari Genderang perang menderu Lantai kelam penjajah kolonial mendidih Raung badai perlawanan merobek angkasa Memerah bumi Tanah Rencong Anak negeri meradang Bangkit melawan dengan pedang Rencong pusaka terhunus Memangsa penjajah yang rakus Dari rimba belantara milik Allah Doa dipanjatkan Tekad dibulatkan Siasat dibungkus berbalut keju Demi sebuah kebebasan dan harga diri Teuku Umar Johan Pahlawan Dalam pengejaran yang tak berujung Engkau pulang ke kampung halaman Mengusir penjajah Meruntuhkan tanggul kokoh penindasan Gemuruh tekad menentang kezaliman Dipanggang panas apimu Digarami lautmu Teriakan kejantanan membahana Engkau, atau aku Tanggul penjajahan terguncang Gelisah mencemaskan Kepongahan berselimut kepanikan Siasat kesetiaan terendus dalam kelam Serentetan mesiu dilepas tanpa arah Air bergolak, ombak bangkit menerpa Suak Ujung Kalak membisu, haru Lantai kelam perjuangan memerah Di tanah kelahiranmu Teuku Umar Engkau pulang men...

Merantau Jilid 2: Halaman Persembahan

Boleh saja berpikir canggih. Namun, berfokus pada hal penting dan  mengabaikan hal yang menarik perhatian adalah cara untuk menjadi sederhana.  Sudah menjadi tugas pemimpin untuk menyederhanakan hal-hal rumit. Jangan mengkerdilkan diri sendiri, keluarga atau orang-orang terdekat kita.  Jika orang lain tidak melakukannya terhadap kita, mengapa kita justru berbuat.  Padahal, Allah senantiasa membesarkan kita dari keadaan yang kerdil  (Ayahanda) Selalu ada pola di dunia ini, apapun itu. Bahkan saat sesuatu itu tidak berpola,  polanya adalah tidak beraturan. Tetapi, sekacau apapun polanya,  kita tetap bisa menemukan hal menarik dan menyimpulkan sesuatu  (Darwis Tere Liye dalam Negeri di Ujung Tanduk) Semua orang besar adalah pemimpi. Mereka melihat banyak hal dalam kabut lembut saat musim semi atau api merah pada malam musim dingin yang panjang.  Beberapa dari kita membiarkan impian besar itu mati, tetapi yang lain justru meme...