Skip to main content

Posts

Homo proponit, sed Deus disponit

Semoga dirimu... Mari bersama...

End of March

Orang bersih cenderung disingkirkan dalam struktur birokrasi... Mars Korpri Satukan irama langkahmu, bersatu tekad menuju ke depan Berjuang bahu membahu, memberikan tenaga tak segan Membangun negara yang jaya, membina bangsa besar sejahtera Memakai akal dan daya, membimbing membangun mengemban Berdasar Pancasila dan Undang-Undang Dasar '45 serta dipandukan oleh haluan negara, kita maju terus Di bawah panji Korpri, kita mengabdi tanpa pamrih Di dalam naungan Tuhan Yang Maha Kuasa, Korpri maju terus

Padamu Johan Pahlawan

Karya: B. Ustari Genderang perang menderu Lantai kelam penjajah kolonial mendidih Raung badai perlawanan merobek angkasa Memerah bumi Tanah Rencong Anak negeri meradang Bangkit melawan dengan pedang Rencong pusaka terhunus Memangsa penjajah yang rakus Dari rimba belantara milik Allah Doa dipanjatkan Tekad dibulatkan Siasat dibungkus berbalut keju Demi sebuah kebebasan dan harga diri Teuku Umar Johan Pahlawan Dalam pengejaran yang tak berujung Engkau pulang ke kampung halaman Mengusir penjajah Meruntuhkan tanggul kokoh penindasan Gemuruh tekad menentang kezaliman Dipanggang panas apimu Digarami lautmu Teriakan kejantanan membahana Engkau, atau aku Tanggul penjajahan terguncang Gelisah mencemaskan Kepongahan berselimut kepanikan Siasat kesetiaan terendus dalam kelam Serentetan mesiu dilepas tanpa arah Air bergolak, ombak bangkit menerpa Suak Ujung Kalak membisu, haru Lantai kelam perjuangan memerah Di tanah kelahiranmu Teuku Umar Engkau pulang men...

Merantau Jilid 2: Halaman Persembahan

Boleh saja berpikir canggih. Namun, berfokus pada hal penting dan  mengabaikan hal yang menarik perhatian adalah cara untuk menjadi sederhana.  Sudah menjadi tugas pemimpin untuk menyederhanakan hal-hal rumit. Jangan mengkerdilkan diri sendiri, keluarga atau orang-orang terdekat kita.  Jika orang lain tidak melakukannya terhadap kita, mengapa kita justru berbuat.  Padahal, Allah senantiasa membesarkan kita dari keadaan yang kerdil  (Ayahanda) Selalu ada pola di dunia ini, apapun itu. Bahkan saat sesuatu itu tidak berpola,  polanya adalah tidak beraturan. Tetapi, sekacau apapun polanya,  kita tetap bisa menemukan hal menarik dan menyimpulkan sesuatu  (Darwis Tere Liye dalam Negeri di Ujung Tanduk) Semua orang besar adalah pemimpi. Mereka melihat banyak hal dalam kabut lembut saat musim semi atau api merah pada malam musim dingin yang panjang.  Beberapa dari kita membiarkan impian besar itu mati, tetapi yang lain justru meme...

Kepada Hawa (Reposting)

aku merelakanmu menjauh, merelakanmu terjatuh ke tempat sampah bagai sepotong apel merah yang di geligimu pernah berdarah adakah cinta yang jatuh kepadamu melebihi cintaku? lelaki yang engkau cintai itu mati dan tak membawamu ke makamnya sementara aku bertahan hidup, bertahun-tahun sanggup tak mati oleh rindu—dan menanti di surga hawa, aku masih ular yang setia mencintaimu sepanjang usia tuhan -------------------------------------------------- karya M. Aan Mansyur (dimusikalisasi dan dibacakan oleh Anji) Sekedar menyetor sebuah tulisan ke dalam blog. Akhir-akhir ini semakin tidak produktif untuk menulis. Namun, hari ini Jumat tanggal 29 November 2013 tepat di peringatan Hari Korps Pegawai Republik Indonesia ke-42, salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan S2 di program studi Magister Administrasi Publik UGM Yogyakarta selesai diuji, dipertahankan dan diterima oleh para dosen penguji. Alhamdulillah, the most historic day. Thanks f...

Aku dan Kau (Cinta Bermain Kata; Bermain Kata Cinta)

Tak terbaca, entah. Menepis prasangka adalah pilihan paling bijak. Menanti tulisan adalah pilihan paling masuk akal. Bahagia adalah harapan. Tak terhitung, entah. Menyitir doa adalah pilihan paling bijak. Menyebut namamu adalah pilihan paling masuk akal. Mimpi adalah harapan. Tak terjelaskan, entah. Mencintaimu adalah pilihan paling bijak. Memilikimu adalah pilihan paling masuk akal. Pernikahan adalah harapan. Entah apa yang kubaca, kuhitung dan kujelaskan. Aku bijak, hati menuntunku padamu. Aku masuk akal, logika membawaku padamu. Aku berharap, kamu. Prasangka sulit ditolak, tapi belum kutahu doa diterima. Nyatanya cinta tetap tak berubah. Tulisan yang kesekian kali belum kuterima, tapi berkali-kali namamu terucap olehku secara berirama. Nyatanya, memilikimu ialah usaha tanpa putus asa. Akhirnya, kita sadar cinta adalah memiliki. Kita paham pula tentang memiliki cinta. Dan harapan menikahimu adalah mimpi bahagia yang harus jadi nyata. Hingga saatnya tiba, ...

September

September ini kosong. Sebenarnya tidak. Isinya hanya ini. Tapi, bisa dibilang tidak berisi. Kau akan membacanya jika memasukkan kata kunci 'September'. Dan seketika kau akan tidak membacanya lagi. Buat apa bertanya, coba lihat kalimat awal tulisan ini: kosong. Begini saja. Kalau kau bersedia, simak sedikit sampai akhir. Anggap saja kau menghargaiku atas tulisan ini; dan aku menghargaimu untuk hapus rasa penasaran. Seperti aku yang juga penasaran; mengapa aku harus menulis ini? Ini sudah di ujung, ujung September. Ini juga sudah di ujung, ujung tulisan. Tapi, ini belum berakhir. Siapa bilang purnama ketigabelas kemarin sudah usai? Jelas belum. Bulan hanya kosong sebentar saja. Bulan menunggu dirinya diisi oleh cahaya. Hanya saja, cahaya-cahaya itu sedang berkelebat dalam pusat sistem saraf. Ujung September ini akan bertemu pangkal Oktober. Ujung tulisan ini akan bertemu pangkal cerita; bukan puisi. Jadi, tunggu saja bulan depan....