Skip to main content

Posts

Merantau Jilid 2: Halaman Persembahan

Boleh saja berpikir canggih. Namun, berfokus pada hal penting dan  mengabaikan hal yang menarik perhatian adalah cara untuk menjadi sederhana.  Sudah menjadi tugas pemimpin untuk menyederhanakan hal-hal rumit. Jangan mengkerdilkan diri sendiri, keluarga atau orang-orang terdekat kita.  Jika orang lain tidak melakukannya terhadap kita, mengapa kita justru berbuat.  Padahal, Allah senantiasa membesarkan kita dari keadaan yang kerdil  (Ayahanda) Selalu ada pola di dunia ini, apapun itu. Bahkan saat sesuatu itu tidak berpola,  polanya adalah tidak beraturan. Tetapi, sekacau apapun polanya,  kita tetap bisa menemukan hal menarik dan menyimpulkan sesuatu  (Darwis Tere Liye dalam Negeri di Ujung Tanduk) Semua orang besar adalah pemimpi. Mereka melihat banyak hal dalam kabut lembut saat musim semi atau api merah pada malam musim dingin yang panjang.  Beberapa dari kita membiarkan impian besar itu mati, tetapi yang lain justru meme...

Kepada Hawa (Reposting)

aku merelakanmu menjauh, merelakanmu terjatuh ke tempat sampah bagai sepotong apel merah yang di geligimu pernah berdarah adakah cinta yang jatuh kepadamu melebihi cintaku? lelaki yang engkau cintai itu mati dan tak membawamu ke makamnya sementara aku bertahan hidup, bertahun-tahun sanggup tak mati oleh rindu—dan menanti di surga hawa, aku masih ular yang setia mencintaimu sepanjang usia tuhan -------------------------------------------------- karya M. Aan Mansyur (dimusikalisasi dan dibacakan oleh Anji) Sekedar menyetor sebuah tulisan ke dalam blog. Akhir-akhir ini semakin tidak produktif untuk menulis. Namun, hari ini Jumat tanggal 29 November 2013 tepat di peringatan Hari Korps Pegawai Republik Indonesia ke-42, salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan S2 di program studi Magister Administrasi Publik UGM Yogyakarta selesai diuji, dipertahankan dan diterima oleh para dosen penguji. Alhamdulillah, the most historic day. Thanks f...

Aku dan Kau (Cinta Bermain Kata; Bermain Kata Cinta)

Tak terbaca, entah. Menepis prasangka adalah pilihan paling bijak. Menanti tulisan adalah pilihan paling masuk akal. Bahagia adalah harapan. Tak terhitung, entah. Menyitir doa adalah pilihan paling bijak. Menyebut namamu adalah pilihan paling masuk akal. Mimpi adalah harapan. Tak terjelaskan, entah. Mencintaimu adalah pilihan paling bijak. Memilikimu adalah pilihan paling masuk akal. Pernikahan adalah harapan. Entah apa yang kubaca, kuhitung dan kujelaskan. Aku bijak, hati menuntunku padamu. Aku masuk akal, logika membawaku padamu. Aku berharap, kamu. Prasangka sulit ditolak, tapi belum kutahu doa diterima. Nyatanya cinta tetap tak berubah. Tulisan yang kesekian kali belum kuterima, tapi berkali-kali namamu terucap olehku secara berirama. Nyatanya, memilikimu ialah usaha tanpa putus asa. Akhirnya, kita sadar cinta adalah memiliki. Kita paham pula tentang memiliki cinta. Dan harapan menikahimu adalah mimpi bahagia yang harus jadi nyata. Hingga saatnya tiba, ...

September

September ini kosong. Sebenarnya tidak. Isinya hanya ini. Tapi, bisa dibilang tidak berisi. Kau akan membacanya jika memasukkan kata kunci 'September'. Dan seketika kau akan tidak membacanya lagi. Buat apa bertanya, coba lihat kalimat awal tulisan ini: kosong. Begini saja. Kalau kau bersedia, simak sedikit sampai akhir. Anggap saja kau menghargaiku atas tulisan ini; dan aku menghargaimu untuk hapus rasa penasaran. Seperti aku yang juga penasaran; mengapa aku harus menulis ini? Ini sudah di ujung, ujung September. Ini juga sudah di ujung, ujung tulisan. Tapi, ini belum berakhir. Siapa bilang purnama ketigabelas kemarin sudah usai? Jelas belum. Bulan hanya kosong sebentar saja. Bulan menunggu dirinya diisi oleh cahaya. Hanya saja, cahaya-cahaya itu sedang berkelebat dalam pusat sistem saraf. Ujung September ini akan bertemu pangkal Oktober. Ujung tulisan ini akan bertemu pangkal cerita; bukan puisi. Jadi, tunggu saja bulan depan....

Bintang dari Manglayang dan Nakhoda Pemerintahan: Sebuah Refleksi Ikrar Pamong yang didedikasikan untuk seluruh Purna Praja STPDN/IPDN di Indonesia

Ksatrian IPDN Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat (Rabu, 28 Agustus 2013) “ Kami Putra-putri Indonesia yang memiliki profesi sebagai Pamong, berjanji: Setia kepada Negara Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 ; Sedia berkorban untuk kepentingan, negara/bangsa dan masyarakat ; Siap melayani dan mengabdi untuk kepentingan masyarakat dimana pun kami bertugas. Kami sadar, ikrar ini didengar oleh Tuhan dan manusia, semoga Tuhan memberikan kekuatan lahir dan batin agar kami dapat melaksanakan ikrar kami ini.” ( Ikrar Pamong ) Bintang Purna Praja kembali bertambah jumlahnya dan bersinar di langit Indonesia. Sesaat setelah pin Purna Praja berwarna kuning keemasan itu disematkan di sebelah kanan dada pakaian kebesaran, suara lantang dari Pamong Praja Muda IPDN Angkatan XX berkumandang di Ksatrian dan seantero Jatinangor. Suara keyakinan dan kesiapan putra-putri Kawah Candradimuka yang menegaskan Ikrar Pamong bagi bangsa dan negara. Saat ikrar itu d...

Merantau Jilid 2: Masih Ada (Keikhlasan dan Kelembutan Hati)

“... Oh Andromeda, biarlah engkau bersinar di antara ribuan bintang lainnya S ebagai isyarat Tuhan akan pesona dan keagungan cinta , yang berharap kembali N amun suatu saat nanti pelitamu ’kan abadi bersama mimpi ...” (Dear Andromeda: Kabisat) Chapter 7 -------------------------------------------- Yunani dan Ethiopia Sebelum Masehi -------------------------------------------- Kalimat-kalimat cerdik dari Nereid—Venus dan para dewi laut—berhasil menambah kemarahan Poseidon. Sebagai Dewa yang menguasai laut, Poseidon tidak senang mendengar kesombongan istri Raja Ethiopia yang mengumbar kecantikan dirinya dan putrinya di seantero negeri mereka itu. Sontak, rakyat Ethiopia bangkit cemasnya. Mereka takut akan murka Dewa Laut yang terkenal temperamental. Kekhawatiran mereka akhirnya menjadi kenyataan. Cepheus sebagai pemimpin tertinggi negeri Ethiopia mengumumkan peringatan Poseidon ke seluruh penjuru negeri. Seketika bencana memporak-porandakan seluruh wilayah. K...

Real Madrid dan Obat Hati: Memandang Manajemen Strategis dari Kabisat

“Masalah nyata kita bukanlah kekuatan hari ini, tapi tindakan nyata hari ini yang menjamin kekuatan masa depan.” (Calvin Coolidge) Kutipan sederhana itu jadi awal pembuka kuliah Manajemen Strategis Sektor Publik edisi ketiga. Aku menyebutnya edisi ketiga karena Pak Subando menjadi dosen ketiga dari tim pengampu mata kuliah ini selain Pak Warsito dan Bu Ambar Teguh. Dan pendahuluan darinya membuka mindset baru bagi kami dalam memahami mata kuliah teknis sekaligus dipandang terlalu repot ini oleh sebagian orang, termasuk aku. Menarik untuk mengulas, merefleksikan pada kehidupan dan membaginya untuk kalian. Ilustrasi Manajemen Strategis